MWF6NGx4MGZ5MWp7NqNcMqpcMSMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Penyebab Kenapa Ibu Kota Harus Pindah dari Jakarta ?


Apa harapanmu untuk Ibu Kota baru ? Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sedang memiliki wacana perihal pindahnya Ibu Kota baru yang berasal dari Jakarta akan pindah ke daerah luar Jawa. Jakarta tetaplah Jakarta, kota ini tidak akan lepas dari ikon Monas yang ada. Hanya saja, beberapa kondisi yang tidak memadai membuat pemerintah berpikir kembali "apakah Jakarta masih layak sebagai Ibu Kota Indonesia ?".

Pemindahan Ibu Kota ini tidak dilakukan untuk kepentingan suatu golongan atau kelompok semata. Tentunya pemindahan ini sudah dipikirkan secara matang oleh pemerintah karena jika dibiarkan akan memiliki efek yang lebih besar bagi negara.

Kenapa Ibu Kota Harus di Luar Jawa ?

Jakarta sendiri sudah tidak cocok lagi menjadi Ibu Kota Indonesia karena overpopulasi, kekurangan air bersih, lahan yang sudah terbatas, kemacetan yang tinggi, polusi tinggi yang tidak menyehatkan, rawan banjir dan banyak kerugian yang dihasilkan contohnya seperti penggunaan bahan bakar yang mencapai Rp 65 triliun pada tahun 2017 silam.

1. Overpopulasi

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa Jakarta sudah overpopulasi dan ternyata hal ini juga terjadi pada pulau Jawa sendiri. Jumlah penduduk di Pulau Jawa sudah mencapai 140 juta jiwa, yang mana rata-rata penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Jika dibiarkan maka Pulau Jawa akan memiliki populasi yang membludak dan tentunya ini berdampak buruk bagi Pulau Jawa karena populasi melebihi batas normal. Orang-orang sudah dipastikan biasanya akan mencari pekerjaan di Ibu Kota karena memiliki benefit yang lebih tinggi dibandingkan dengan bekerja di kota-kota biasa. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang selalu berdatangan ke Ibu Kota bahkan dari luar Jawa sekalipun. Maka dari itu, pemindahan Ibu Kota ke luar Jawa merupakan tindakan yang tepat.

2. Jakarta sudah memiliki beban berat yang banyak

Jakarta memiliki beban berat yang begitu banyak seperti, rawan banjir, kemacetan tinggi, penurunan permukaan tanah dan sistem transportasi yang buruk. Sudah tentu kita harus mempertimbangkan hal ini, karena jika keadaan Ibu Kota sudah tidak kondusif maka seluruh kegiatan yang ada pun turut ikut tidak kondusif.
Beban Jakarta juga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Anda mungkin berpikir, "bagaimana bisa Jakarta sebagai Ibu Kota yang sudah jelas adalah aset negara namun malah merugikan ?". Jawabannya sederhana, Anda mungkin hanya melihatnya dari segi ekonomi utama saja namun Anda lupa memperhatikan perihal lingkungannya.

Polusi udara Jakarta dapat menyebabkan kerugian sampai Rp 51,2 triliun, kerugian tersebut disebabkan oleh jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi dampak kesehatan yang dialami oleh warga Jakarta. Selain itu, kerugian akibat banjir Jakarta bisa mencapai Rp 144 - 220 miliar atau bahkan lebih dari itu dan juga seperti yang dijelaskan pada gambar di atas kerugian akibat macet & tidak efisiennya pengunaan bahan bakar mencapai Rp 65 triliun. Bagaimana fantastik bukan ?

3. Jawa Mengalami Krisis Ketersediaan Air

Untuk yang satu ini mungkin sudah tidak aneh lagi, karena kita tahu banyak sekali pabrik-pabrik yang dengan mudahnya membuang limbah ke sungai atau mungkin karena masyarakat yang tidak bertanggung jawab dengan enaknya membuang sampah kepada tempat yang sama.
96% kualitas air sungai di Jakarta sudah tercemar berat. Jika air saja sudah tidak bersih lalu bagimana bisa Jakarta tetap menjadi Ibu Kota yang sehat ? adapun jika dilakukannya penanggulangan terhadap air sungai yang tercemar maka itu akan memakan waktu yang lama dan juga membutuhkan biaya yang cukup banyak.

4. Konversi Lahan Terbesar Terjadi di Pulau Jawa

Ternyata konversi lahan terbesar terjadi di Pulau Jawa, hal ini tentu saja terjadi karena melihat penduduknya yang begitu banyak dan juga memiliki lokasi yang strategis akan mengundang adanya konversi lahan. Contoh mudahnya adalah seperti pesawahan yang berubah menjadi pabrik-pabrik yang tentunya memiliki dampak negatif lebih besar dari sebelumnya.

Dari mana pembiayaan pemindahan Ibu Kota ?

Jika Anda bertanya-tanya "Dari mana biaya yang digunakan untuk memindahkan Ibu Kota ?" jawabannya tentu dari uang negara sendiri, hal ini meliputi hasil dari APBN, BUMN, Swasta, dan juga KPBU. Memindahkan Ibu Kota memerlukan biaya yang tidak sedikit namun jika memang memiliki dampak yang lebih baik bagi negara kenapa tidak ?.
Lebih jelasnya seperti berikut :

APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
  • Infrastruktur pelayanan dasar
  • Istana Negara
  • Bangunan strategis TNI/POLRI
  • Perumahan dinas ASN dan TNI/POLRI
  • Pengadaan lahan dan ruang terbuka hijau
BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
  • Peningkatan bandara dan pelabuhan
Swasta
  • Perumahan umum
  • Perguruan tinggi
  • Sarana kesehatan, MICE, dan science-technopark
  • Shopping mall
KPBU (Kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha)
  • Gedung eksekutif, legislatif, dan yudikatif
  • Infrastruktur utama (selain yang sudah tercakup dalam APBN)
  • Sarana pendidikan, kesehatan, museum dan lembaga pemasyarakatan
  • Sarana dan prasarana penunjang
Sumber : Bappenas RI

Ibu Kota Baru, Harapan Baru

Berbicara soal harapan tentu saja kita menginginkan Ibu Kota ini menjadi lebih baik lagi dan kesalahan yang terjadi sebelumnya jangan sampai terulang kembali. Jika memang wacana pemindahan Ibu Kota ini terealisasi, Penulis sendiri menginginkan tempat untuk Ibu Kota baru ini haruslah tempat yang memang jauh dari daerah rawan bencana (batas konvergen), memiliki aspek infrastruktur yang memadai, letak yang strategis, dan tentunya memiliki peluang berkembang yang cepat.

Rata-rata semuanya pasti menuju ke Kalimantan Timur dan memang Kalimantan Timur ini sepertinya memenuhi persyaratan untuk menjadi Ibu Kota baru. Kalimantan Timur kebetulan memiliki lokasi yang jauh dari lempeng-lempeng yang bertumbukkan satu sama lain karena terleteak tepat di tengah-tengah Indonesia sehingga tidak akan menjadi daerah yang rawan bencana. Selain itu, infrastruktur tentu saja memadai. Ada Bandara APT Pranoto Samarinda, Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan, Pelabuhan Laut Semayang Balikpapan, Jalan Tol Balikpapan-Samarinda, dan juga memiliki sumber daya listrik yang memadai.

Adapun jika dilihat dari letaknya yang berada di tengah-tengah Indonesia ini, Kaltim berada tepat di tepi selat Makassar yang merupakan alur laut utama Kepulauan Indonesia II yang menghubungkan negara Indonesia antara Australia, Tiongkok, Jepang dan juga Filipina. Jika berbicara soal letak Ibu Kota nya, maka lokasi yang sangat cocok untuk dijadikan Ibu Kota adalah Bukit Soeharto yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Alasannya karena Bukit Soeharto terletak tepat diantara dua kota besar yaitu Kota Samarinda dan Balikpapan.

Berikut beberapa alasan mengapa Bukit Soeharto adalah lokasi yang tepat untuk dijadikan Ibu Kota baru :
  • Memiliki luas 100.000 hektare
  • Dapat diintegrasikan dengan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda
  • Tersedia sumber air yang cukup
  • Bebas dari pencemaran lingkungan
  • Ketinggiannya di atas 25 meter dari permukaan laut
  • Akses mobilitas dan logistik yang mudah
Hanya saja seperti yang kita ketahui bahwa Kalimantan merupakan paru-paru dunia yang harus dijaga. Ketika nanti Ibu Kota terletak di sana, otomatis akan banyak perusahaan-perusahaan atau bangunan yang didirikan di sana. Bukannya tidak boleh, namun mungkin harus diimbangi dengan keadaan alam. Jika semua lahan dijadikan bangunan-bangunan tinggi tanpa memperhatikan kondisi alam maka sudah pasti Kalimantan tidak akan berbeda jauh dari Jakarta.

Selain itu, para perantau baru dan masyarakat wajib untuk cinta kepada lingkungan. Budaya mudah dilakukan namun sulit diterapkan adalah seperti membuang sampah pada tempatnya. Para pendatang baru yang mungkin memiliki kebiasaan buruk membuang sampah takutnya ikut melakukan hal yang sama di kawasan paru-paru dunia ini. Oleh karena itu, pemerintah harus menindak tegas bagi siapa saja yang ingin merusak keadaan alam Kalimantan, dan juga harus membuat efek jera bagi pelaku. Begitu juga berlaku untuk pabrik-pabrik yang suka membuang limbahnya ke sungai.

Kesimpulan

Pemindahan Ibu Kota adalah ide bagus jika memang itu bisa mengatasi masalah-masalah dan dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Kalimantan sangat cocok untuk dijadikan Ibu Kota baru karena memiliki keunggulan dibandingkan daerah lainnya terutama Kalimantan Timur. Namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai Kalimantan yang merupakan paru-paru dunia ini ikut hancur karena pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, tindakan pemerintah yang tegas sangatlah dibutuhkan.

#Bappenas #IbuKotaBaru

Mengikuti Lomba Nasional yang diadakan oleh Kementrian PPN/Bappenas bertemakan "Harapanmu Untuk Ibu Kota Baru".
Share This Article :
Kaca Teknologi

Official account of KacaTeknologi.com

4571795084962316914